SeIra
Prolog
“Dia selalu membuatku
terheran – terheran, setiap harinya dia selalu memunculkan hal yang tidak
terduga dan membuat banyak orang takjub, termasuk aku. Dia selalu berhasil
membuat pertahanan hatiku runtuh seketika.”~ Ira
“Perempuan
itu, tidak seperti yang lainnya. Dia sangat bersinar diantara yang lain.
Terlihat cuek dan tak peduli, namun sangat rapuh dan diam – diam selalu
memberikan perhatian pada orang disekitarnya. Dia bukan yang tercantik dan
terpintar, tapi dia memiliki tempat istimewa dalam diriku.”~ Septa
Chapter 1 - Ira
“Kamu mau nunggu kan?”ucap Septa sekali
lagi.
Tapi, entah mengapa, hatiku tiba – tiba
gundah dan tak yakin aku bisa menunggunya selama itu.
“Aku gak tahu Septa, aku takut aku gak
bisa nepatin kalau aku bilang aku bakal tunggu, karena kita gak tahu apa yang
bakal terjadi kedepannya kan?” ucapku hati – hati.
“Tapi kita bisa mencoba dulu kan?” pinta
Septa.
“Oke, aku bakal tunggu kamu” ucapku
“Serius?!” tanyanya terkaget
“Iya aku serius” ucapku meyakinkan
“Tapi aku ingin kita lebih fokus mengejar
cita – cita kita, dan tidak terlalu memikirkan hubungan ini karena mungkin akan
membelah fokus kita, bagaimana?” tanyaku lagi.
“Oke, aku setuju” ucapnya dengan
tersenyum.
Sebenarnya
akupun tidak yakin apakah hal ini akan berjala mulus, karena aku sudah memiliki
firasat yang buruk tentang hal ini. Tapi kuteguhkan hatiku kembali, aku yakin
aku dan Septa bisa melewatinya dengan baik.
Karena
setelah perpisahan kelas 12 tidak wajib ke sekolah, kamipun jarang bertemu, aku
sibuk mempersiapkan perkuliahanku di IPB, begitu juga dengan Septa. Hingga
akhirnya besok adalah pengumuman kelulusan, seluruh kelas 12 wajib datang ke
sekolah untuk mengambil surat yang berisi lulus atau tidaknya kami dari sekolah
ini.
Jam
setengah tujuh, aku berangkat ke sekolah menggunakan angkutan umum, seperti
biasa, supir angkut menyetel lagu untuk menambah kenyamanan penumpang.
Kenyamanan itupun menghampiriku dan mungkin pengguna angkutan yang lain. Hari
itu lagu yang disetel membuatku sedikit terbawa suasana dan mengenang masa –
masa ketika SMP dulu.
“Para
siswa kelas 12, sebelum kalian membuka surat kelulusan, saya akan memberikan
sedikit amanat, setelah kalian keluar dari sini, baik yang akan meneruskan
untuk kuliah, atau bekerja. Bapak harap kalian menjadi orang yang menjunjung
tinggi kejujuran, karena kejujuran adalah mata uang yang berlaku dimana –
mana!.”ucap kepala sekolahku.
Setelah
amanat yang diucapkan kepala sekolah selesai, dengan aba – aba kami semua
membuka surat kelulusan tersebut, dan alhamdulillah kami semua lulus dan tidak
ada yang tinggal kelas. Setelah acara itu, kamipun kembali ke kelas masing –
masing karena ada yang akan ibu wali kelas kami sampaikan.
Saat
di kelas, Septa mendekatiku dan bertanya “Ira, kamu sudah selesai mengurus
pendaftaran ke IPB?”ucapnya mengawali pembicaraan. “Alhamdulillah sudah, kalau
kamu?” tanyaku. “Aku juga sudah, tinggal mengirim berkas saja” ucapnya.
Pembicaraan pun mengalir, dan kau tau? Saat aku mengobrol dengannnya, dunia
hanya seperti ada aku dan Septa saja. Kalian mungkin dapat memperkirakan
bagaimana percakapan kami.
Sekarang
sudah jam 12, kelas 12 sudah boleh pulang, tapi sebelum pulang aku shalat
dzuhur di sekolah dulu dengan teman – temanku. Lalu setelah shalat dzuhur. Aku
dan teman – temanku pulang bersama. Namun saat di gerbang sekolah, Septa
menghampiriku dengan motornya.
Chapter 2 – Septa
“Iraa!” panggilku kepada Ira
“Y ya kenapa Septa?” tanyanya, dengan muka
kaget, munkin aku terlalu keras memanggilnya tadi.
“Mau bareng? Aku anter ke rumah” ucapku.
“Mm tapi aku lagi bareng sama teman –
temanku, gak enak aku pulang gak bareng mereka.” Ucapnya
“Gak apa – apa ko Ira, pulang sama Septa
aja, kamu sedikit gak enak badan kan? Itu biar cepet pulang, kalo sama angkot
kan harus tunggu dulu, apalagi sekarang semua siswa dibubarin, kan penuh
angkotnya.” Ucap Rena, salah satu teman Ira
“Beneran gak apa – apa?” Ucap Ira cemas, akh aku tidak tahan melihatnya begitu.
“Iya gak apa – apa, aku duluan ya” ucap
Rena
“Ayo naik” ucapku
Saat di jalan, aku mencoba bertanya
pada Ira, kalau tidak salah dengar tadi kata Rena, Ira sedikit tidak enak
badan. Aku jadi hawatir, “Ira, kamu gak enak badan?” tanyaku. “ Iya ini,
kepalaku pusing, dan flu juga.” Katanya pelan.”Mau beli bubur gak? Itu ada
warung bubur didepan” tanyaku padanya. “Iya boleh” Ucapnya.
Akupun
menghentikan motor di pinggir warung bubur, dan memesankan bubur untuk ira.
“Ira duduk dulu ya, biar aku pesenin” ucapku. Akupun mendekat ke pemilik warung
bubur dan memesan satu bungkus bubur, “Mang
meser bubur saporsi, dibungkusnya mang, tong hilap” Ucapku. “Siap kasep!” Ucap tukang bubur tersebut.
Sambil
menunggu bubur, aku duduk disebelah Ira, dan memperhatikannya karena dari tadi
mukanya sudah sangat lesu. Aku hawatir dia terjatuh pingsan disini. “Kamu
gapapa Ira? Muka kamu pucet loh” Ucapku padanya. “Iya gapapa ko, bentar lagi
juga pulang dan aku bisa istirahat” ucapnya.
“Kasep iyeu buburna tos jadi!” Ucap si
tukang bubur. Akupun menghampirinya, dan membayar bubur tersebut. Lalu mengajak
Ira pulang, “Ayo pulang ra” Ajakku. “Buburnya berapaan Septa?” Tanyanya padaku.
“Udah, aku yang bayarin, ayo sekarang cepet pulang biar kamu bisa tidur” ucapku
padanya.
Akupun
menyalakan motor, setelah Ira naik, kamipun segera bergegas ke rumah Ira.
Selang beberapa menit kamipun tiba di rumah Ira. “Septa,mampir saja dulu” Kata
Ira. “Gapapa ko, aku langsung pulang aja, ada perlu sama ayah soalnya” ucapku
padanya. “Yaudah makasih ya, maaf jadi ngerepotin kamu” ucapnya. “ Gak ko, gak
ngerepotin, udah cepet masuk rumah, terus makan bubur sama obatnya, langsung
tidur!” Ucapku memerintah. “Iya bawel” katanya.
Keesokan
harinya, karena kelas 12 sudah tidak wajib untuk ke sekolah, akupun pergi ke
toko buku, karena ada beberapa buku yang aku butuhkan sebelum keberangkatanku
ke Bandung. Aku belum menghubungi Ira karena aku hawatir mengganggunya karena
dia selalu membalas pesanku. Saat tiba di toko buku, aku langsung memarkirkan
motorku dan masuk kedalam toko. Aku langsung menjelajahi rak buku secara
perlahan, pada saat akan mengambil sebuah buku, hupp buku itu langsung
menghilang dari rak itu karena diambil oleh seseorang.
Chapter – 3
Masalah
Siapa
yang menduga, pertemuan ini membuat hal yang tidak terduga nantinya. Septa
mengubah arah badannya kepada si pengambil buku incarannya, dan ternyata yang
mengambil buku tersebut adalah seorang wanita. “Mba bisa berikan bukunya? Saya
sudah mengincar buku itu dari lama” tanya Septa kepada wanita itu. Namun
“Enak aja, maaf ya mas saya juga butuh
buku ini, soalnya harus punya buku ini saat Ospek nanti.” Katanya
“Ehh apa mba mahasiswa baru di Unpad?”
tanya Septa
“Iya, si masnya juga samakah?” tanyanya.
“Iya, wah kebetulan kalau begitu salam
kenal sesama siswa Unpad” Ucap Septa
“Iya, tapi bukunya saya ambil ya?”
tanyanya.
Septa pun terpaksa mengalah, lalu
berpamitan pada perempuan tadi tapi saat di jalan, iya lupa belum menanyakan
siapa nama perempuan tadi.Tapi Septa tidak terlalu mempermasalahkan hal
tersebut karena toh nanti juga bisa ketemu lagi Di Unpad.
Setelah
mencari – cari ke tiap toko buku yang ada, akhirnya Septa mendapatkan buku itu,
dia beruntung karena di toko buku itupun buku tersebut tinggal bersisa satu,
dan dia tidak menyia – nyiakan kesempatan itu dan segera membayar buku tersebut
ke kasir. Saat keluar dari toko buku itu, hari sudah terik, menunjukkan pukul
12.00, Septapun segera melajukan motornya dan berhenti di masjid terdekat untuk
menyambut panggilan Allah. Setelah shalat, Septapun segera menyalakan motornya
dan pulang ke rumah karena harus mengantar Ibunya ke pasar untuk berbelanja.
Malam
tiba, saat sedang membereskan rak buku, ponsel Septa bebrbunyi, menunjukkan ada
pesan masuk. Septa pun menghampiri ponselnya dan tersenyum karena mendapati
pesan tadi berasal dari Ira,Septapun segera membalas pesan tersebut.
“Hai Septa”
“Hai juga Ira, ada apa ini? Kangen ya?”
goda Septa
“Ih geer deh, tapi bener ko wkwk” ucapnya
“Aku mau nelpon ini, boleh?”
“Boleh ko” ucapnya
Septapun
memberhentikan acara bersih – bersih raknya dan bergegas menelepon Ira, mereka
terus mengobrol hingga waktu menunjukkan pukul 10 malam. Mereka menyudahi acara
mengobrol ria tersebut dan beranjak ke alam mimipi, berharap ada mimpi indah
yang datang kali ini.
Tapi
saat Ira tidur, ia mendapat mimpi buruk, di mimpinya, ia melihat ada perempuan
lain yang menganggu obrolannya di mimpi tersebut. Ira terbangun dengan jantung
berdebar, apaini? Apakah ini firasat? Ira takut hal ini benar, tapi dia mencoba
tidak terlalu memikirkannya karena ini hanyalah mimpi. Saat beranjak tidur
kembali, ia tak bisa tidur, dan memutuskan untuk beranjak menjawab panggilan
Allah di sepertiga malam.
Paginya
ira langsung membersihkan rumah, membuka warung, dan membantu ibunya memasak.
“Nak, kamu gak pergi keluar kan sekarang?
Tolong jagain warung ya? Ibu ada perlu ke koperasi” ucap Ibunya
“Siapp Ibu!”
Setelah selesai membuka
toko, ia mengambil ponselnya, dan membuka akun instagramnya sambil tersenyum –
senyum melihat kiriman teman – temannya di Instagram.
Dia senang, karena sahabat - sahabat dekatnyan juga kuliah di universitas yang mereka idamkan, ada yang sudah berangkat ke Jakarta, Semarang untuk mempersiapkan ospek, karena disana ospek diadakan lebih awal. Ira pun akan berangkat ke Bogor semnggu lagi, untuk memersiapkan ospek di IPB sana.
lanjutannya ntar ya, makasih sudah membaca novel buatanku :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar