Kamis, 28 Februari 2019

Novel



SeIra
Prolog
“Dia selalu membuatku terheran – terheran, setiap harinya dia selalu memunculkan hal yang tidak terduga dan membuat banyak orang takjub, termasuk aku. Dia selalu berhasil membuat pertahanan hatiku runtuh seketika.”~ Ira
            “Perempuan itu, tidak seperti yang lainnya. Dia sangat bersinar diantara yang lain. Terlihat cuek dan tak peduli, namun sangat rapuh dan diam – diam selalu memberikan perhatian pada orang disekitarnya. Dia bukan yang tercantik dan terpintar, tapi dia memiliki tempat istimewa dalam diriku.”~ Septa

Chapter 1 - Ira
“Kamu mau nunggu kan?”ucap Septa sekali lagi.
Tapi, entah mengapa, hatiku tiba – tiba gundah dan tak yakin aku bisa menunggunya selama itu.
“Aku gak tahu Septa, aku takut aku gak bisa nepatin kalau aku bilang aku bakal tunggu, karena kita gak tahu apa yang bakal terjadi kedepannya kan?” ucapku hati – hati. 
“Tapi kita bisa mencoba dulu kan?” pinta Septa.
“Oke, aku bakal tunggu kamu” ucapku
“Serius?!” tanyanya terkaget
“Iya aku serius” ucapku meyakinkan
“Tapi aku ingin kita lebih fokus mengejar cita – cita kita, dan tidak terlalu memikirkan hubungan ini karena mungkin akan membelah fokus kita, bagaimana?” tanyaku lagi.
“Oke, aku setuju” ucapnya dengan tersenyum.
            Sebenarnya akupun tidak yakin apakah hal ini akan berjala mulus, karena aku sudah memiliki firasat yang buruk tentang hal ini. Tapi kuteguhkan hatiku kembali, aku yakin aku dan Septa bisa melewatinya dengan baik.
            Karena setelah perpisahan kelas 12 tidak wajib ke sekolah, kamipun jarang bertemu, aku sibuk mempersiapkan perkuliahanku di IPB, begitu juga dengan Septa. Hingga akhirnya besok adalah pengumuman kelulusan, seluruh kelas 12 wajib datang ke sekolah untuk mengambil surat yang berisi lulus atau tidaknya kami dari sekolah ini.
            Jam setengah tujuh, aku berangkat ke sekolah menggunakan angkutan umum, seperti biasa, supir angkut menyetel lagu untuk menambah kenyamanan penumpang. Kenyamanan itupun menghampiriku dan mungkin pengguna angkutan yang lain. Hari itu lagu yang disetel membuatku sedikit terbawa suasana dan mengenang masa – masa ketika SMP dulu.
            “Para siswa kelas 12, sebelum kalian membuka surat kelulusan, saya akan memberikan sedikit amanat, setelah kalian keluar dari sini, baik yang akan meneruskan untuk kuliah, atau bekerja. Bapak harap kalian menjadi orang yang menjunjung tinggi kejujuran, karena kejujuran adalah mata uang yang berlaku dimana – mana!.”ucap kepala sekolahku.
            Setelah amanat yang diucapkan kepala sekolah selesai, dengan aba – aba kami semua membuka surat kelulusan tersebut, dan alhamdulillah kami semua lulus dan tidak ada yang tinggal kelas. Setelah acara itu, kamipun kembali ke kelas masing – masing karena ada yang akan ibu wali kelas kami sampaikan.
            Saat di kelas, Septa mendekatiku dan bertanya “Ira, kamu sudah selesai mengurus pendaftaran ke IPB?”ucapnya mengawali pembicaraan. “Alhamdulillah sudah, kalau kamu?” tanyaku. “Aku juga sudah, tinggal mengirim berkas saja” ucapnya. Pembicaraan pun mengalir, dan kau tau? Saat aku mengobrol dengannnya, dunia hanya seperti ada aku dan Septa saja. Kalian mungkin dapat memperkirakan bagaimana percakapan kami.
            Sekarang sudah jam 12, kelas 12 sudah boleh pulang, tapi sebelum pulang aku shalat dzuhur di sekolah dulu dengan teman – temanku. Lalu setelah shalat dzuhur. Aku dan teman – temanku pulang bersama. Namun saat di gerbang sekolah, Septa menghampiriku dengan motornya.
Chapter 2 – Septa
“Iraa!” panggilku kepada Ira
“Y ya kenapa Septa?” tanyanya, dengan muka kaget, munkin aku terlalu keras memanggilnya tadi.
“Mau bareng? Aku anter ke rumah” ucapku.
“Mm tapi aku lagi bareng sama teman – temanku, gak enak aku pulang gak bareng mereka.” Ucapnya
“Gak apa – apa ko Ira, pulang sama Septa aja, kamu sedikit gak enak badan kan? Itu biar cepet pulang, kalo sama angkot kan harus tunggu dulu, apalagi sekarang semua siswa dibubarin, kan penuh angkotnya.” Ucap Rena, salah satu teman Ira
“Beneran gak apa – apa?” Ucap Ira  cemas, akh aku tidak tahan melihatnya begitu.
“Iya gak apa – apa, aku duluan ya” ucap Rena
“Ayo naik” ucapku
            Saat di jalan, aku mencoba bertanya pada Ira, kalau tidak salah dengar tadi kata Rena, Ira sedikit tidak enak badan. Aku jadi hawatir, “Ira, kamu gak enak badan?” tanyaku. “ Iya ini, kepalaku pusing, dan flu juga.” Katanya pelan.”Mau beli bubur gak? Itu ada warung bubur didepan” tanyaku padanya. “Iya boleh” Ucapnya.
            Akupun menghentikan motor di pinggir warung bubur, dan memesankan bubur untuk ira. “Ira duduk dulu ya, biar aku pesenin” ucapku. Akupun mendekat ke pemilik warung bubur dan memesan satu bungkus bubur, “Mang meser bubur saporsi, dibungkusnya mang, tong hilap” Ucapku. “Siap kasep!” Ucap tukang bubur tersebut.
            Sambil menunggu bubur, aku duduk disebelah Ira, dan memperhatikannya karena dari tadi mukanya sudah sangat lesu. Aku hawatir dia terjatuh pingsan disini. “Kamu gapapa Ira? Muka kamu pucet loh” Ucapku padanya. “Iya gapapa ko, bentar lagi juga pulang dan aku bisa istirahat” ucapnya.
            Kasep iyeu buburna tos jadi!” Ucap si tukang bubur. Akupun menghampirinya, dan membayar bubur tersebut. Lalu mengajak Ira pulang, “Ayo pulang ra” Ajakku. “Buburnya berapaan Septa?” Tanyanya padaku. “Udah, aku yang bayarin, ayo sekarang cepet pulang biar kamu bisa tidur” ucapku padanya.
            Akupun menyalakan motor, setelah Ira naik, kamipun segera bergegas ke rumah Ira. Selang beberapa menit kamipun tiba di rumah Ira. “Septa,mampir saja dulu” Kata Ira. “Gapapa ko, aku langsung pulang aja, ada perlu sama ayah soalnya” ucapku padanya. “Yaudah makasih ya, maaf jadi ngerepotin kamu” ucapnya. “ Gak ko, gak ngerepotin, udah cepet masuk rumah, terus makan bubur sama obatnya, langsung tidur!” Ucapku memerintah. “Iya bawel” katanya.
            Keesokan harinya, karena kelas 12 sudah tidak wajib untuk ke sekolah, akupun pergi ke toko buku, karena ada beberapa buku yang aku butuhkan sebelum keberangkatanku ke Bandung. Aku belum menghubungi Ira karena aku hawatir mengganggunya karena dia selalu membalas pesanku. Saat tiba di toko buku, aku langsung memarkirkan motorku dan masuk kedalam toko. Aku langsung menjelajahi rak buku secara perlahan, pada saat akan mengambil sebuah buku, hupp buku itu langsung menghilang dari rak itu karena diambil oleh seseorang.
Chapter – 3 Masalah
            Siapa yang menduga, pertemuan ini membuat hal yang tidak terduga nantinya. Septa mengubah arah badannya kepada si pengambil buku incarannya, dan ternyata yang mengambil buku tersebut adalah seorang wanita. “Mba bisa berikan bukunya? Saya sudah mengincar buku itu dari lama” tanya Septa kepada wanita itu. Namun
“Enak aja, maaf ya mas saya juga butuh buku ini, soalnya harus punya buku ini saat Ospek nanti.” Katanya
“Ehh apa mba mahasiswa baru di Unpad?” tanya Septa
“Iya, si masnya juga samakah?” tanyanya.
“Iya, wah kebetulan kalau begitu salam kenal sesama siswa Unpad” Ucap Septa
“Iya, tapi bukunya saya ambil ya?” tanyanya.
Septa pun terpaksa mengalah, lalu berpamitan pada perempuan tadi tapi saat di jalan, iya lupa belum menanyakan siapa nama perempuan tadi.Tapi Septa tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut karena toh nanti juga bisa ketemu lagi Di Unpad.
            Setelah mencari – cari ke tiap toko buku yang ada, akhirnya Septa mendapatkan buku itu, dia beruntung karena di toko buku itupun buku tersebut tinggal bersisa satu, dan dia tidak menyia – nyiakan kesempatan itu dan segera membayar buku tersebut ke kasir. Saat keluar dari toko buku itu, hari sudah terik, menunjukkan pukul 12.00, Septapun segera melajukan motornya dan berhenti di masjid terdekat untuk menyambut panggilan Allah. Setelah shalat, Septapun segera menyalakan motornya dan pulang ke rumah karena harus mengantar Ibunya ke pasar untuk berbelanja.
            Malam tiba, saat sedang membereskan rak buku, ponsel Septa bebrbunyi, menunjukkan ada pesan masuk. Septa pun menghampiri ponselnya dan tersenyum karena mendapati pesan tadi berasal dari Ira,Septapun segera membalas pesan tersebut.
“Hai Septa”
“Hai juga Ira, ada apa ini? Kangen ya?” goda Septa
“Ih geer deh, tapi bener ko wkwk” ucapnya
“Aku mau nelpon ini, boleh?”
“Boleh ko” ucapnya
            Septapun memberhentikan acara bersih – bersih raknya dan bergegas menelepon Ira, mereka terus mengobrol hingga waktu menunjukkan pukul 10 malam. Mereka menyudahi acara mengobrol ria tersebut dan beranjak ke alam mimipi, berharap ada mimpi indah yang datang kali ini.
            Tapi saat Ira tidur, ia mendapat mimpi buruk, di mimpinya, ia melihat ada perempuan lain yang menganggu obrolannya di mimpi tersebut. Ira terbangun dengan jantung berdebar, apaini? Apakah ini firasat? Ira takut hal ini benar, tapi dia mencoba tidak terlalu memikirkannya karena ini hanyalah mimpi. Saat beranjak tidur kembali, ia tak bisa tidur, dan memutuskan untuk beranjak menjawab panggilan Allah di sepertiga malam.
            Paginya ira langsung membersihkan rumah, membuka warung, dan membantu ibunya memasak.
“Nak, kamu gak pergi keluar kan sekarang? Tolong jagain warung ya? Ibu ada perlu ke koperasi” ucap Ibunya
“Siapp Ibu!”
Setelah selesai membuka toko, ia mengambil ponselnya, dan membuka akun instagramnya sambil tersenyum – senyum melihat kiriman teman – temannya di Instagram.
Dia senang, karena sahabat - sahabat dekatnyan juga kuliah di universitas yang mereka idamkan, ada yang sudah berangkat ke Jakarta, Semarang untuk mempersiapkan ospek, karena disana ospek diadakan lebih awal. Ira pun akan berangkat ke Bogor semnggu lagi, untuk memersiapkan ospek di IPB sana.


lanjutannya ntar ya, makasih sudah membaca novel buatanku :)

Rabu, 27 Februari 2019

Esai


Pengaruh Banjir dan Perilaku Buang Sampah ke Sungai
            Sekarang ini di sekitar kita, terutama di daerah ibukota, kita sering melihat terjadinya banjir karena meluapnya air dari sungai. Dan hal itu berimbas pada terganggunya kelancaran berkendara karena air menggenangi jalan raya dan membuat para pengendara kesulitan untuk menjalankan mobil atau motor dengan nyaman.
            Tapi sebenarnya hal itu juga disebabkan karena ulah para manusia nakal yang membuang sampah dan limbah hasil industri ke sungai. Karena sampah terus menumpuk pada dasar sungai, pengaliran airpun semakin menyusut dan berimbas pada meluapnya air ke jalan raya dan daerah sekitarnya.
            Akibat air yang meluap itu masuk ke pemukiman warga, terjadilah banjir dan warga harus mengungsi karena rumahnya tergenang air. Belum lagi wabah penyakit yang mengincar dan menyerang orang dari segala usia, yang patut mendapat perhatian khusus adalah anak – anak karena anak – anak sangat rentan terkena penyakit seperti, seperti muntaber, tyfus, demam berdarah, malaria, infeksi saluran pernapasan akut, dll.
            Harusnya dari kejadian banjir yang sudah langganan di ibukota, masyarakat sadar akan kesalahannya membuang sampah ke sungai, karena hal itu bukan saja berimbas pada manusia, tetapi termasuk pada makhluk hidup dan ekosistem sungai. Apabila ekositem sungai rusak, maka proses rantai makanan pun terganggu, dan perlahan – lahan makhluk hidup disungai mati.
            Banyak cara yang bisa kita lakukan untuk mencegah hal tersebut terjadi, dari sisi pemerintah, pemerintah dapat memberikan penyuluhan pada masayarakat tentang buruknya membuang sampah ke sungai, lalu mengajari cara pengolahan sampah yang masih berguna agar dapat menghasilkan uang.
            Dari sisi masyarakat, kita bisa menegur apabila menemukan orang yang membuang sampah kesungai, apabila orang tersebut tetap bergeming, kita bisa melaporkan orang tersebut ke pihak berwajib agar ditangani dengan bijak.
            Dengan cara – cara diatas, diharapkan ada perubahan yang terjadi pada pola perilaku masyarakat yang buang samapah ke sungai dan menjadi lebih baik dan bertanggung jawab dalam pengolahan sampah, agar tidak terjadi banjir setaiap musim penghujan datang.

Artikel


High Order Thinking Skills (HOTS)
 
 
Selama beberapa bulan terakhir, sepertinya soal HOTS menjadi topik primadona di dunia pendidikan. Soal HOTS pertama kali mulai dibicarakan ketika Kemendikbud mengeluarkan kebijakan untuk memasukkan soal HOTS di Ujian Nasional 2018. Kebijakan ini pun menuai banyak kritik karena diumumkan secara tiba-tiba dan para peserta ujian nasional merasa kesulitan mengerjakan UN 2018 silam.
              Setelah sempat reda, soal HOTS kembali ramai dibicarakan. Kali ini, kebijakan datang dari Kemenristekdikti yang menyatakan bahwa soal HOTS akan masuk di SBMPTN 2019. Kemendikbud pun tetap melanjutkan program mereka untuk memasukkan soal HOTS di UN 2019. Otomatis hal ini menambah panas peperangan kelas 12/sederajat dalam menghadapi UN dan SBMPTN 2019.
                Tapi, sebenarnya apa itu HOTS? HOTS awalnya dikenal dari konsep Benjamin S. Bloom dkk. dalam buku berjudul Taxonomy of Educational Objectives: The Classification of Educational Goals (1956) yang mengategorikan berbagai tingkat pemikiran bernama Taksonomi Bloom, mulai dari yang terendah hingga yang tertinggi. Konsep ini merupakan tujuan-tujuan pembelajaran yang terbagi ke dalam tiga ranah, yaitu Kognitif (keterampilan mental seputar pengetahuan), Afektif (sisi emosi seputar sikap dan perasaan), dan Psikomotorik (kemampuan fisik seperti keterampilan).
                Yang termasuk kategori High Order Thinking Skill yaitu create (mencipta), evaluate (mengevaluasi), analysis (menganalisis). Sedangkan yang termasuk kedalam kategori Lower Order Thinking Skill yaitu apply (menerapkan), understand (memahami), remember (mengingat). Sekarang ini para pelajar dituntut untuk menguasai cara berpikir tingkat tinggi tersebut, atau yang sering kita dengar dengan kata HOTS.
                Pada tahun lalu, Soal HOTS dimasukkan dalam ujian nasional, banyak siswa kelas 12 yang mengeluh karena tidak adanya pemberitahuan terlebih dulu tentang hal ini dari pemerintah sehingga nilai ujian nasional tahun 2018 sedikit menurun dibandingkan tahun lalu.
                Tahun 2019 ini, Pemerintah mengumumkan bahwa soal HOTS akan kembali dimasukkan dalam soal ujian nasional dan akan ditambah jumlahnya, serta akan diujiankan pula dalam UTBK. Hal itupun menambah kekhawatiran kelas 12 yang akan mengikuti ujian tahun ini dan menjadi trending di kalangan pendidikan.
                Tapi sebenarnya kita tidak perlu menjadikan itu suatu hal yang harus ditakutkan, karena apabila kita belajar dengan sungguh – sungguh, kita pasti bisa menaklukannya dengan baik. Karena Soal HOTS ini hanya pengubahan bentuk soal dari soal LOTS dengan perubahan berbentuk soal cerita, dan lainnya.



Minggu, 17 Februari 2019

contoh cerita pendek





Contoh Cerita Pendek

Hai para pembaca, kali ini saya akan memberikan contoh tentang cerita pendek berjudul "SeIra", semoga bisa menambah wawasan para pembaca ya aamiin :)).





 

 SEIRA
By Aen H
            Seandainya dulu kamu tidak mengucapkannya, mungkin sekarang aku sudah mengubur segala hal tentangmu dalam - dalam.
Aku akan sedikit menceritakan kisahku, kisah seorang anak remaja dan cinta yang sering kita dengar. Dan mungkin kalian sedang mengalaminya karena wajar dimasa ini siapa yang tidak menyimpan rasa terhadap lawan jenis, sepertinya hampir semua mengalaminya.
  Ini terjadi saat aku menginjak bangku SMA di tahun ketiga, awalnya akupun hanya memandang biasa dan tidak menyimpan rasa apa – apa. Tapi perlahan dia terus muncul di kepalaku dan hampir muncul setiap saat. Laki – laki itu, Septa, teman sekelasku. Aku pikirkan, dia hanya laki – laki biasa, cukup pintar dan cuek. Aku tak tahu mengapa aku bisa menyukai laki – laki itu, tapi mungkin berawal dari kesalahanku membuka secuil hatiku karena rasa penasaranku, tapi lubang kecil itu malah bertambah lebar, dan sekarang dia seenaknya terus mendiami hati dan pikiranku, hhftt.
Hari itu saat pelajaran matematika, setiap kelompok mempresentasikan soal yang diberikan oleh Bu Rima untuk dijabarkan cara pengerjaannya. Saat itu kelompok 1 yang diketuai Septa maju untuk mempresentasikan hasil jawaban mereka. Saat penjabaran selesai, siswa lain diberi kesempatan untuk bertanya. Saat itu Anggi dari kelompok 5 meminta untuk mengerjakan soal yang dikerjakan oleh kelompok sebelumnya dengan cara yang digunakan oleh kelompok 1 untuk menyamakan hasilnya.
Septapun maju untuk menjelaskan hal itu, saat itu entah mengapa dia terlihat keren dan aku tertegun untuk beberapa saat hingga akhirnya presentasi selesai dan aku baru tersadar dari lamunan. Sejak itu mataku selalu melirik dan memperhatikan Septa yang aku kira hanya rasa kagum biasa dan aku kira rasa itu akan hilang dengan sendirinya.
Tetapi menginjak semester akhir rasa itu bertambah kuat dan aku sedikit sulit menghadapi perasaan ini. Aku berusaha menghiraukan hal itu dengan melakukan kegiatan apapun yang dapat membuatku melupakannya walaupun hanya sedikit. Tetapi pertahananku runtuh saat harus berbicara dan bertatapan mata dengannya.
Seperti saat aku sekelompok belajar dengannya, otomatis aku pasti berbicara dan dia menatap mataku. Saat setiap kelompok harus mengajukan pertanyaan untuk kelompok yang sedang presentasi, aku kira Septa sudah membuat pertanyaan, karena itu aku tidak terlalu memperhatikan presentasi yang sedang berlangsung,
“Ira kamu sudah membuat pertanyaan belum?” tanyanya padaku.
“Belum, aku kira kamu sudah membuat pertanyaannya” ucapku.
Tapi saat itu dia dan temannya hanya tertawa karena dari kelompok kami tidak ada yang membuat pertanyaan satupun dan pertahananku sedikit runtuh melihat senyumnya.
“Tapi tadi aku sedikit menulis hal – hal yang bisa ditanyakan, kalian tinggal melengkapi kata – katanya saja” ucapku sambil menyerahkan buku tulis kepada Septa.
            Disaat tertentu dia terlihat maskulin dan kalian pasti mengerti saat itu juga pertahananku selalu runtuh. Mengapa aku selalu mempertahankan hatiku agar tidak bertambah jauh menyukainya, karena aku tau sebentar lagi kami berbeda arah untuk menggapai cita – cita kami masing – masing. Dan aku juga belum mengetahui apakah perasaanku terbalas atau tidak, hal ini yang selalu terpikir dibenakku. Aku tidak mau jatuh pada kesalahan yang sama, karena kecerobohanku. Tapi terkadang aku juga menjadi berharap kembali padanya.
            Septa seringkali melirik kearahku dan terkadang mata kita bertemu, hal itu membuatku canggung dan malu. Tapi disaat itu sekelebat pikiran menghampiri dan berkata bahwa bisa saja dia melirik kepada teman sebangkuku atau teman yang duduknya berdekatan denganku ataupun yang duduk bersilangan denganku, karena paras mereka lebih cantik dibandingkan denganku. Tapi pikiranku yang lain berkata belum tentu dia melihat dari paras seseorang melainkan keunikan yang dipancarkan oleh orang tersebut.
            Hal itu terus bergumul dikepalaku hingga hari acara perpisahan tiba. Saat itu siswa yang sudah diterima di PTN biasanya diumumkan di acara perpisahan tapi mendengarnya sekali lagi membuat mood ku hancur.
“Ira Alfia Nur Cahyani, diterima di Institut Pertanian Bogor jurusan Arsitektur Lanskap” ucap salah satu guruku.
Beberapa siswa yang  lain yang diterima di PTN pun disebutkan satu persatu dan akhirnya,
“Septa Panji Pratama, diterima di Universitas Padjajaran jurusan Geofisika” ucap salah satu guruku.
Perkataan itu membuat hatiku tertohok sekali lagi, dan memantapkan hati bahwa aku harus melupakannya. Karena tidak mungkin aku harus menahan beban rasa ini terlalu lama sendirian.
            Setelah acara perpisahan selesai semua teman sekelasku berfoto bersama dan berbincang – bincang ria. Tapi,,
“Ira selamat ya keterima di IPB”  ucap Septa mengawali perbincangan.
“i iya selamat ya kamu keterima di UNPAD hehe” ucapku kikuk.
“Padahal aku pengennya di IPB sih biar bareng kamu lagi” ucap Septa dengan senyummanisnya.
“Hah?” ucapku kaget, kata – kata itu otomatis membuat niatku yang tadi terhapuskan.
“Disana jangan deket sama cowok lain ya sampai aku datang, pokoknya tunggu aku, oke?!” seru Septa.
“K kkamu pasti bercanda deh, iyakan?” tanyaku berharap bahwa ucapanku salah.
“Aku serius, jadi kamu mau nunggu kan?” pintanya penuh harap.
Aku yakin jika saat ini aku bukan sedang di tempat ramai, aku sudah loncat loncatan kegirangan.